Piala Dunia 2006 telah berlalu. Namun, menyisakan sebuah cerita yang menurut media massa dan pengamat sepakbola sebagai sebuah akhir yang menyedihkan buat Zidane. Tandukannya kepada Materazzi di menit ke 110 membuat dia harus diusir keluar lapangan oleh wasit Horacio Elizondo pada partai Final Piala Dunia 2006 yang berlangsung di Olympic Stadium, Berlin, saat Perancis melawan Italia.
Saya dan istri kebetulan menyaksikan partai akhir tersebut. Dan betapa kagetnya kami ketika melihat Zizou, panggilan Zidane, menandukan kepalanya ke dada Materazzi. Istri saya pun bertanya-tanya, apa yang dikatakan oleh Materazzi hingga Zizou menanduknya. Sambil iseng kami pun membahasnya. Apa kira2 yang dikatakan Materazzi untuk memprovokasi Zizou. Saya pun berseloroh, mungkin dia menghina Ibunya, sesuatu yang untuk seorang laki-laki sangatlah personal, dan bisa membuat mu ingin melakukan sesuatu kepada orang tersebut. Kalau saya jadi Zizou, mungkin saya akan melakukan lebih dari itu.
Partai Final adalah partai yang penuh dengan emosi yang memuncak. Keinginan untuk memenangkan suatu pertandingan yang berada di depan mata, membuat kita kadang kehilangan kendali di lapangan. Jangan kan sebuah final di Piala Dunia, bahkan saat bermain futsal melawan kantor2 lain, kerap emosi itu tidak tertahankan bila ada yg melakukan provokasi yang tidak perlu. Dalam salah satu pertandingan bola voli pun saya sempat bersitegang dengan pemain lawan. Jadi, hanya para pemain yang tau apa yg terjadi dilapangan. Tidak selalu tehnik2 indah dalam berolahraga, namun ada juga yang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memancing emasi lawan.
Dalam pertandingan sepakbola atau olah raga lainnya yang selalu menuntut kemenangan, ketegangan tersebut tidak mungkin dihindari. Melihat Zizou dikeluarkan oleh wasit, setelah pertandingan usai Buffon (kiper Italia) berkomentar bahwa dia tidak heran bila Zizou melakukan itu, karena dia sering mendapatkan kartu merah di liga Italia (Serie A). Zizou paham betul bahasa Itali, sepaham pemain2 Itali bagaimana memprovokasi Zizou dengan baik. Buffon sangatlah benar, Zizou sering dapat kartu merah. Dan Buffon pasti tau mengapa dia sering dapat kartu merah….karena dia selalu emosi bila di provokasi mengenai asal-usul keluarga dan Ibunya. Apakah ini bagian dari skenario Italia? Wallahualam.
Banyak yang mencerca Zizou. Dia dianggap sebagai penyebab kekalahan Perancis. Namun, Perancis bukan kalah karena ulah Zizou, tapi karena Perancis tidak beruntung. Sampai 120 menit, kedua kesebelasan menunjukkan permainan yg atraktif. 1-1. Perancis malah lebih dominan. Seorang teman mengatakan bahwa Cattenacio menang, tapi maaf….menurut saya bukan cuma Catenaccio, tapi juga pertahanan Perancis. Hanya karena metode mereka telah diberi nama, makanya terkenal. Namun, sebuah drama yang tidak dapat dihindarkan dan paling menyebalkan, adu penalti….memang tidak bisa dihindari. Kedua tim, yang dari awal penyisihan hanya dipandang sebelah mata ternyata mampu menjinakkan tim-tim yang bertabur bintang dan lebih diunggulkan, dan menurut saya….kedua tim tersebut layak dianggap sebagai pemenang. Perancis tidak beruntung. Tendangan Trezeguet membentur tiang. 5-3 buat Italia. Dalam adu penalti tersebut, kedua kiper tidak dapat mementahkan 1 tendangan pun, bahkan Kiper No. 1 sekelas Buffon yang berkali2 tertipu si kulit bundar dalam drama tersebut.
Kembali ke Zizou. Saya baru2 ini mendapatkan pencerahan dari My Honey. Karena heran dengan kecaman seluruh dunia yang mengarah ke Zizou, dia lantas memberikan komentarnya. Katanya, mengapa orang2 tidak melihat dari sisi lain. Dengan segala titel pemain terbaik kelas dunia dan kesempatan menjadi juara, mengapa Zizou mau merelakan semua nya lepas demi harga diri keluarga agar tidak diinjak2 orang? Bukankah kita harusnya bangga, masih ada contoh orang yg hebat yg mau mengorbankan kehormatan pribadinya buat keluarga? Apakah hal itu pernah terlintas dipikiran kita?
Tidak ada yg perlu dibuktikan lagi oleh pemain hebat seperti Zizou. Segalanya sudah melekat pada dirinya. Kartu merah yg dia dapatkan, mestinya membuat kita tersadar bahwa, manusia pun ada batasnya. Dan Zizou pun hanya manusia. Kita terlalu disuguhi puja-puji setinggi langit olah media massa dan pengamat, dan seolah kita didoktrin bahwa seorang pahlawan itu haruslah tanpa cela.
Mungkin semua orang punya teori mereka sendiri2, namun teori istri saya layak saya jadikan bahan renungan.
Ada seorang teman yg menyematkan kata2 indah di status YM-nya. Menang atau kalah….it’s only a game…katanya. Saya setuju, maka dari itu konsep menang-kalah sudah saya tinggalkan ketika Perancis masuk ke Final. Mereka sudah mendapatkan ‘bonus’ tersendiri setelah lolos ke 16 besar.
Selamat menikmati pensiunmu dengan indah Zizou. Perancis akan menemukan jalannya sendiri. Sepakbola akan mengenangmu, dengan segala suka dan dukanya.